MALANG KOTA – Hawa sejuk di Kota Malang membuat para turis kerasan. Mereka pun betah berlama-lama tinggal di Kota Malang yang dikelilingi pegunungan hingga lupa harus kembali pulang. Alhasil, mereka pun harus dideportasi atau diusir karena tidak memiliki izin tinggal.

Jumlahnya pun cukup banyak. Dua tahun terakhir telah tercatat, sebanyak 60 warna negara asing (WNA) diusir Kantor Imigrasi Kelas I Malang. Dari jumlah itu, 26 WNA di antaranya diusir sejak Januari–November 2016. Sedangkan, 34 lainnya pada 2015 lalu. Mereka yang diusir, adalah pelancong dan pelajar. ”Mayoritas yang kami deportasi adalah pelancong. Mereka menyalahi izin tinggal atau melewati batas waktu,” kata Kepala Seksi Bagian Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Malang Baskoro Dwi Prabowo, kemarin (5/12).

Baskoro menyebutkan, pada tahun ini, selain telah mendeportasi 26 orang, dua orang WNA juga sedang diproses. Pelaksanaannya masih menunggu tiket pulang ke negara asalnya. Selama proses menunggu tiket kepulangan, para WNA itu dititipkan di Ruang Detensi Imigrasi (Rudenim) Kelas I Malang dan di Rudenim Surabaya.

WNA yang dideportasi tahun 2016 ini, berasal dari berbagai negara. Di antara dari Libya 6 orang, Thailand dan Malaysia masing-masing 4 orang. Kemudian, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) 3 orang, Belanda dan Timor Leste masing masing 2 orang. Selain itu, dari beberapa negara lainnya Taiwan, Turki, Madagaskar, Iran dan Afganistan, masing-masing 1 orang.

Untuk pendeportasian WNA di tahun 2015 yang berjumlah 34 orang, mayoritas berasal dari Tiongkok dan Taiwan.

WNA yang dideportasi ini, mayoritas adalah pelajar yang sedang menjalani studi di Indonesia. Ada juga WNA yang visanya hanya sebatas melancong tetapi kemudian mereka diam-diam tinggal lama di suatu wilayah.

Namun, ada juga WNA menikah dengan warga pribumi yang menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) serta bekerja di wilayah hukum kabupaten dan Kota Malang ataupun kepentingan riset dan budaya.

WNA yang dideportasi itu, rata-rata menetap dan beraktivitas di wilayah pedesaan dan tidak segera menyadari bahwa masa berlaku izin tinggalnya telah habis. Pelanggar izin keimigrasian itu dikenakan sanksi sesuai tingkat pelanggaran yang dilakukan, termasuk denda Rp 300 ribu per hari untuk izin yang telah habis masa berlakunya,

Sedangkan WNA yang keberadaannya telah 60 hari, Kantor Imigrasi Kelas I Malang secara otomatis akan melakukan langkah deportasi dan nama yang bersangkutan akan dimasukan ke dalam daftar cegah-tangkal atau cekal.

Sesuai ketentuan, visa kunjungan berlaku selama 30 hari dan bisa diperpanjang, izin tinggal sementara (Itas) berlaku setahun dan bisa diperpanjang. Sedangkan, izin tinggal tetap (Itap) berlaku lima tahun dan bisa diperpanjang.

Maka, Kantor Imigrasi Kelas I Malang terus berupaya menangkal berulangnya WNA yang menyalahi izin tinggal di wilayah kerjanya. Salah satunya, terus meningkatkan pengawasan pada orang asing yang berkunjung di wilayah kerjanya.

Selain itu, melakukan sosialisasi serta mengimbau kepada para pemilik hotel, kos, maupun penginapan untuk proaktif melaporkan jika ada WNA yang singgah ke tempat mereka. ”Harapannya, ke depan, para pemilik kos maupun penginapan aktif melapor. Minimal melapor ke kelurahan atau kecamatan setempat jika ada orang asing yang singgah,” pungkasnya

http://radarmalang.co.id/kantor-imigrasi-malang-usir-26-wna-56629.htm

Share this post on: